Minggu, 02 Maret 2014

DAGING SANGAT BERBAHAYA! 7 ALASAN YANG BERPOTENSI MEMBAHAYAKAN JIWA

ayam daging Copy
Orang Malaysia mengkonsumsi banyak daging. Pada tahun 1984, mereka habiskan 518.447 ton daging ayam, 178.872 ton daging babi, 69.317 ton daging sapi dan 9.509 ton daging kambing. Impor produk peternakan juga mencapai RM2 milyar pada tahun tersebut. Konsumsi daging ayam naik paling cepat (9,3%/tahun), diikuti oleh konsumsi daging sapi(7,9%), daging kambing (4,4%), dan babi (2,5%). Malaysia merupakan konsumen daging ayam terbesar di Asia: 32 kg perkapita per tahun. Dari semua daging yng dikonsumsi, 70%-nya adalah unggas. Akibatnya, resiko menderita penyakit atau, mati muda sangat tinggi. Statistik WHO secara konsisten menunjukkan bahwa negara-negara yang paling banyak mengkonsumsi daging memiliki tingkt insiden penyakit tertinggi (misalnya penyakit jantung dan kanker).

Orang yang mengkonsumsi produk hewani 40% lebih rentan terkena kanker dan beresiko terjangkit stroke, kegemukan, radang usus buntu, rapuh tulang, arthiritis, diabetes, dan keracunan makanan.Di beberapa negara, ayam yang diberi makan lebih banyak protein hewani dari pada sapi, sehingga ayam juga menjadi pembawa penyakit sapi gila (Bovine Spongiform Encepalopathy). Celakanya ayam tidak hidup cukup lama sehingga gejalanya belum terdeteksi. Kita harus meyakinkan konsumen bahwa daging ayam bukanlah sumber “makanan sehat”, namun merupakan sumber kolestrol , lemak jenuh, kuman salmonellla atau bahkan penyakit ‘ayam gila’,” demikian diperingatkan Alex Hershaft (Vegetarian Voice, 21 No.4,1996).
Fakta menunjukkan semua jenis daging umumnya tidak menyehatkan. Sebabnya adalah:

1. Sarat Bahan Kimia
Mengkonsumsi daging hean berati mengkonsumsi “puncak rantai makanan”. Di alam ini terdapat rantai makanan yang panjang. Tumbuhan ‘memakan’ sinar matahari, udara dan air;hewan besar memakan hewan kecil.
Dewasa ini, tanah di seantero dunia telah tercemar bahan kimia beracun (pestisida dan pupuk). Racun ini akan bertahan dalam tubuh hewan yang melahap tumbuhan dan rerumputan.
Ladang disemprot bahan kimia membunuh serangga (DDT) yang menurut pakar dapat mengakibatkan kanker, kemandulan dan penyakit lever.
Kebanyakan negara sudah melarang penggunaan pestisida yang kadarnya sangat tinggi terhadap lingkungan ini.
DDT dan pestisida sejenisnya juga ‘mengendap’ dalam lemak hewan (dan ikan) yang sekali disimpan akan sulit terurai. Akibatnya, ketika sapi makan rumput atau pakan, pestisida apapun yang termakan akan disimpan sehingga jika anda memakan daging, anda akan memasukkan ke dalam tubuh anda semua konsentrasi DDT dan bahan kimia lainnya yang ditabung selama masa kehidupan hewan tersebut.
Karena manusia makan pada ‘puncak’ (ujung) rantai makanan kita merupakan pewaris pestsida beracun yang terbesar. Fakta menunjukkan, daging mengandung 13 kali lipat DDT lebih banyak daripada sayuran, buah dan rerumputan. Penelitian lowa State University di Amerika membuktikan baha sebagian besar DDT yang tersimpan dalam tubuh manusia berasal dari hewan.
2. Sarat Dengan Penyakit
Peracunan daging tidak berhenti sampai disini saja. Hewan dijejali berbagai bahan kimia untuk mempercepat pertumbuhannya, menggemukkannya, menyegarkan warnanya dan banyak lagi.
Untuk menghasilkan bobot daging terbesar dengan keuntungan maksimal, hewan pedaging dipaksa makan banyak, disuntik hormon untuk merangsang pertumbuhannya, diberikan penambah nafsu makan, antibiotik, obat penenang dan campuran pakan berbahan kimia. Banyak dari bahan kimia ini didapati mengakibatkan kanker dan fakta menunjukkan banyak dari hewan ini mati bahkan sebelum digirig ke tempat penyembelihan.
Karena peternakan telah berevolusi menjadi pabrik daging, banyak di antara ternak ini tidak pernah melihat dan merasakan sinar matahari. Mereka tinggal berdesak-desakkan di kandang sempit sehingga tidak dapat menggerakkan tubuhnya atau menghirup udara segar.
Kondisi kehidupan kejam laksana di penjara ini mengganggu keseimbangan kimiawi tubuh hewan dan merusak sifat-sifat alaminya, sehingga merangsang pertumbuhan tumor ganas dan abnormalitas lainnya.
Di Amerika dimana 70% ternak sapi diberi antibiotika, bahkan dengan dosis yang sangat tinggi, catatan Departemen Pertanian menyatakan bahwa jutaan kilogram daging hewan potong mengandung tumor.
Tumor Beralih Ke Pemakan Daging
Tumor dan daging tumbuh lainnya mungkin terdeteksi atau bahkan diabaikan produsen atau juru periksa. Dalam praktek sering terjadi hal berikut: jika hewan mengidap kanker atau tumor maka bagian tubuh yang terkena kanker atau tumor akan dipotong dan dibuang, namun sisanya dijual begitu saja sebagai daging ‘sehat’.
Yang lebih mengerikan lagi, bagian yang terkena tumor itu akan dimasukkan ke dalam daging campur seperti hotdog dan diberi label “bagian tubuh hewan”. Di suatu lokasi di Amerika dimana diadakan pemeriksaan rutin terhadap hewan potong didapati bahwa 25.000 ekor sapi yang menderita kanker mata dijual sebagai daging sapi.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa jika limpa hewan yang sakit diberikan kepada ikan, ikan tersebut akan terserang kanker.
3. Sarat Dengan Racun Tubuh Hewan
Sebelum dan selama disembelih, biokimia tubuh hewan mengalami perubahan drastis. Sisa racun menyebar ke seluruh tubuh sehingga meracuni dagingnya.
Menurut Britanica Ensiklopedia, racun tubuh termasuk asam urat dan zat racun lainnya terkandung dalam darah dan jaringan tubuhnya. Protein yang diperoleh dari kacang-kacangan dan polong-polongan seperti buncis dan lenti, serta dari biji-bijian dan produk susu dikatakan relatif murni dibandingkan daging sapi yang mengandung 56% kandungan air tercemar.
Sama halnya dengan tubuh kita, merasa sangat tidak enak pada saat marah atau takut, hewan juga mengalami perubahan biokimiawi ketika berada dalam situasi bahaya. Kadar hormon dalam tubuh hewan, khususnya adrenalin, berubah drastis saat mereka menyaksikan teman-temannya mati disekelilingnya dan mereka berjuang sia-sia untuk membebaskan diri. Sejumlah besar hormon ini mengendap di daging dan kemudian meracuni jaringan tubuh kita. Menurut Institut Gizi Amerika, daging hewan sembelihan (carcass) penuh dengan darah beracun dan zat-zat sampah lainnya.
4. Sarat Dengan Zat Hasil Pembusukan
Daging mentah senantiasa berada dalam kondisi pembusukan. Segera setelah hewan dijagal, terbentuklah zat pengurai ptoemaines, sehingga daging hewan, telur dan ikan semuanya mengalami proses penguraian dan pembusukan yang sangat cepat.
Daging sangat lamban melewati saluran pencernaan manusia, yang memang tidak dirancang untuk mencerna daging. Daging membutuhkan 5 (lima) hari untuk keluar dari saluran pencernaan manusia, dibandingkan dengan makanan nabati yang hanya butuh 1,5 hari. Selama 5 hari tersebut produk sampingan daging yang membusuk tetap bersentuhan dengan saluran pencernaan kita. Kebiasaan memakan daging hewan dalam keadaan membusuk menciptakan racun dalam usus besar dan menyebabkan saluran pencernaan kita aus lebih dini.
5. Sarat Dengan Bakteri
E Coli 0157, suatu jenis bakteri yang lazim terdapat dalam usus besar sapi, sering mengakibatkan diare berdarah dan dehidrasi. Selama masa pemrosesan, daging sapi bisa saja bersentuhan dan tercemar tinja. Daging bertinja ini tetap saja dibungkus dan dikirim ke supermarket.
Di AS, daging sapi giling didapati telah tercemar bakteri ini. Dalam satu buan saja di Minnesota ditemukan 500 ton daging sapi cincang yang mengakibatkan 22 jenis penyakit dan berpotensi menyebabkan penakit lainnya pada 14 negara bagian lain, karena diyakini tercemar E Coli 0157:H7. Menurut Pusat Nasiona Pengendaalian Penyakit Amerika (CDC) dalam laporan Mei 2001 E Coli dan Ssalmonella eduanya menjangkiti 113.000 per tahun.
Anak kecil, manula dan mereka yang kekebalan tubuhnya lemah dianggap paling rentan terhadap penyakit yang dipicu bakteri E Coli.
Daging Yang Dimasak Sampai Matang Juga Berbahaya
Daging Panggang (barbeque) atau sate menciptakan dua jenis bahan kimia yang dapat menimbulkan kanker payudara, lambung, usus besar dan rektum.
 HCA (Hetrosiklik Amines) ditimbulkan dari memanggang daging. Memanggang dan menggoreng dalam panci (dengan sedikit lemak) menghasilkan lebih banyak HCA daripada memasak pada suhu lebih rendah (misalya mengukus dan memanggang). Para pakar menemukan sedikit HCA pada daging yan dimasak sampai matang.
 PAH (Polisiklik Aromatik Hidrokarbon) terserap dalam daging dari asap dan api yang tercipta karena melelehnya lemak pada arang yang menyala (misalnya saat memanggang sate).
6. Sarat Dengan Lemak Dan Kolestrol
Penelitian demi penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa daging sapi, babi unggas dan domba, bahkan dicemari kuman, mengandug lemak jenuh dan kolestrol dalam jumlah besar(hewan pedaging memiliki 30 kali lemak jenuh lebih banyak daripada hewan sejenis normal), sehingga membantu menyesakkan pembuluh darah, rumah sakit dan pekuburan.
Tidaklah mengherankan jika pemakan daging umurnya lebih pendek. Penelitian mancanegara menujukkan bahwa suku Eskimo, Greenland dan Kurgi (Rusia) merupakan konsumen daging tertinggi di dunia. Kelompok ini memiliki hidup lebih rendah, bisa mencapai serendah 30 tahun saja.
Sebagai perbandingan, suku Hunza (Pakistan), Toda (India Timur), Kaukasia (Rusia) dan suku Indian Yukatan hidup dalam kondisi yang keras, dan hampir tidak memakan daging hewan sama sekali. Mereka rata-rata bisa hidup sampai 90-100 tahun.Suku Hunza tidak mengenal usia pensiun, masih enerjik pada usia 80-an dan banyak yang melewati usia 100 tahun.

7. Sarat Dengan Senyawa Hasil Rekayasa Genetika
Hewan pedaging memang masih belum dirubah genetikanya (minimal sampai sekarang), namun mereka diberi makan makanan yang telah direkayasa genetikanya, misalnya: jagung, kentang dan kedelai. Bahan makanan hasil rekayasa ini dapat menimbulkan alergi (ruam dan gatal), pening dan gangguan pemafasan. Dalam kasus yang parah, dapat mengakibatkan shok anaphylaktik dan kematian.
Para pakar berhipotesa bahwa dampak membahayakan makanan produk rekayasa ini dapat masuk dalam tubuh manusia dalam bentuk yang lebih pekat (pestisida) dalam daging tercemar dari pada dalam makanan nabati.
Makanan nabati mengandung jauh lebih sedikit residu pestisida daripada makanan hewani karena jumlah pestisida semakin bertambah ketika satu hewan memakan hewan lainnya. Ketika seekor sapi memakan rumput atau jagung, pestisida pada tumbuhan ini sebagian besar akan tersimpan dalam bentuk padat dalam lemak tubuh hewan tersebut. Pestisida ini kemudian diwariskan secara utuh kepada manusia ketika kita mengkonsumsi daging dan susu hewan tersebut. Memang hewan tidak secara langsung diberi pestisida, residu pestisida semakin banyak berkumpul dalam lemak tubuhnya karena “pencemaran lingkungan”.
Bahkan produk daging yang sudah diproses tidak luput dari efek rekayasa genetika. Pada bulan Maret 2001 di AS, ditemukan bahwa bijiran sarapan jagung (Kelogg’s veggie com dog) mengandung berbagai jenis jagung yang sudah direkayasa gennya.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar