Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

Ketetapan Hati

Pada 79 masehi, Pompei adalah kota yang paling indah di Itali, tetlah dihancurkan oleh letusan gunung Vesuvius. Ribuan orang terkubur dalam berton-ton debu yang menimpa mereka ketika berusaha menyelamatkan diri; yang lainnya mati kehabisan nafas di ruang bawah tanah di mana mereka mencoba menyelamatkan diri.  


Tetapi ada seseorang yang tidak menyelamatkan diri, dia adalah tentara Roma yang berjaga di gerebang kota. Dia tetap tinggal diposnya untuk menjalankan tugasnya dan iapun mati di tempat itu. Dia telah ditugaskan oleh atasannya untuk menjaga temat tersebut. Ketika debu panas tercurah dari langit dari langit dan aliran menerjangnya, dia tetap berdiri teguh dan memegang senjatanya. Enam belas abad lebih barulah dia ditemukan dalam sebuah pengggalian, tetap berada di posnya.


"Tabiat yang kuat mengandung dua hal, kuasa kemauan dan kuasa mengendalikan diri ... Kebesaran dan kemuliaan seseorang diukur dengan kuasanya untuk menahan perasaannya, bukanlah sebaliknya, perasaannya yang mengendalikan dia.  Orang yang terkuat adalah dia yang awas terhadap hal-hal yang merusak, menahan nafsu dan mengampuni musuhnya." - Amanat Kepada Orang Muda, Halaman 412.

Sabtu, 13 Juli 2013

Rancangan TUHAN adalah Rancangan yang terbaik


* * *
Kesaksian Hidup dibalik Meledaknya Pesawat Luar Angkasa Challenger, USA.
Kisah berikut diambil dari kisah nyata tragedi pesawat Challenger. Kisah nyata ini semoga dapat menjadi sumber motivasi bagi kita semua yang mungkin saat ini belum mencapai apa yang anda inginkan atau sedang mengalami sesuatu yang mungkin tidak anda inginkan.

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan  pilot.

Namun, sesuatu pun terjadilah. Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru.

Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington.

Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA.

Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama!

Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.

Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu.

NASA memilih Christina McAufliffe!

Aku kalah. Impian hidupku hancur!

Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?

Aku menangis di pangkuan ayahku. Aku merasa remuk-redam. Sangat sedih dan amat kecewa. Dengan bijaksana, ayahku menghibur, seraya memelukku, “Anakku... semua terjadi karena satu alasan....”

Dan alasan itu terwujud pada Selasa, 28 Januari 1986. Saat itu, Aku dan teman-temanku berkumpul untuk menyaksikan peluncuran pesawat ruang angkasa Challenger.

Saat pesawat melewati landasan pacu, Aku mengeluh dalam doa, “Tuhan... padahal aku bersedia melakukan apa saja agar bisa berada di dalam pesawat itu. Tapi mengapa bukan aku yang terpilih untuk berada di sana sekarang ini?”

Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?

Tujuh puluh detik kemudian, Tuhan menjawab doaku dengan dentuman hebat di angkasa. Api terlontar ke segala penjuru. Seluruh mata yang menyaksikan peristiwa itu seketika terbelalak dengan hati tercekat. Pesawat ulang alik Challenger meledak dan menewaskan semua antariksawan yang ada di dalamnya. Aku terkesima dengan hati dan jantung tergugu. Maka terhapuslah keraguanku pada kuasa Tuhan.



Aku teringat kata-kata ayahku,

"Semua terjadi karena suatu alasan." 

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup.

Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah.

Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua do'aku dikabulkan.

Senin, 10 Desember 2012

Kuasa Kasih


"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. "
1 Korintus 13:13 


Kasih sesungguhnya adalah adalah kuasa yang terbesar di dunia. Tanpa kasih tidak ada penurutan dan tidak ada keselamatan. Tanpa kasih tidak ada rumah tangga dan tidak ada surga. 

Ada satu ilustrasi yang paling menonjol tentang kuasa kasih. Terjadi pada Oktober 1973 berkaitan dengan kematian Kathryn Lawes. Katryn adalah istri Lewis E. Lawes, penjaga penjara Sing-Sing yang terkenal. 

Penjara Sing Sing
Selama tujuh belas tahun Katryn berjalan masuk keluar penjara. menemani orang-orang yang dikucilkan dari masyarakat. 

Katryn mendengarkan keluhan dan kekhawatiran para bapak. Katryn menulis surat bagi kriminal-kriminal muda yang sudah tidak berpengharapan. Katryn menunjungi keluarga para narapidana dan membawa makanan, pakaian dan uang sekalipun. Dan ketika orang-orang itu baru dibebaskan dari tahanan setelah bertahun-tahun terisolasi, sering kali Katryn yang membantu mereka menyesuaikan diri lagi dengan kebebasan. 

Warden lawes
Ketika dikabarkan berita kematiannya yang tragis akibat kecelakaan, dari orang-ke orang dari sel ke sel, berita itu membawa kesedihan yang dirasakan diseluruh penjara. Ketika tiba hari memakamkannya; seorang wakil dari para narapidana pergi pada Warden Lawes, meminta atas nama ratusan orang untuk diberi kesempatan untuk memberi penghormatan terakhir pada orang yang sangat mereka kasihi. 

Warden Lawes mendengarkan permohonan mereka dan menyetujui permohonan mereka. Malam sebelum acara pemakaman gerbang sebelah selatan penjara Sing Sing terbuka pelan-pelan dan sebuah barisan panjang yang terdiri dari pencuri, penjahat, pembunuh semua berbaris menuju kediaman keluarga Warden yang jaraknya sekitar 500 m. 

Tak ada pengawal. Tak ada senjata. Tapi tak seorangpun keluar dari barisan itu. Setibanya di rumah keluarga Warden mereka melewati peti jenazah. Setiap orang berhenti sejenak di depan peti jenazah, dengan hati hancur dan menangis, mereka bergerak maju. Membentuk sebuah barisan, mereka berjalan kembali ke sel penjara yang sunyi itu. 

Tidak heran Paulus mengatakan bahwa kasih memiliki kuasa yang terbesar di dunia. Ellen G. White mengatakan bahwa kasih adalah pemberian TUHAN yang sangat berharga, dan Henry Ward Beercher mengatakan bahwa kasih adalah sungai kehidupan di sunia ini. 

Jika kasih wanita yang baik itu mempunyai kuasa semacam itu untuk menghasilkan sebuah mujizat, mengapa Tuhan tidak bisa melakukan sesuatu seperti itu dengan kasihmu?

TUHAN-ku tidak akan membiarkanku Celaka


"Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."Markus 16:17,18 



G.F. Jones
Janji Yesus pada orang percaya bukan hanya ditujukan pada kedua belas murid-Nya tapi juga ditujukan bagi semua pekerja Kristen yang mau mengkhotbahkan trip ke seluruh dunia. Termasuk Paulus, yang pengalamannya sudah kita baca hari ini. Dan disini ada pengalaman ajaib dalam kehidupan kapten G.F. Jones, dari Pasifik selatan. 

Mei 1908 dia mendarat di pantai bagian barat pulau Sumatra dan menyewa seekor kuda untuk mengadakan perjalanan ke daerah itu. Kebanyakan dari perjalanan itu sangat terjal dan melalui hutan lebat yang ada gajahnya, harimau, dan monyet-monyet besar. Penduduknya adalah beragama Muslim, dan ketika mereka mendapati bahwa kapten Jones tidak makan babi tidak merokok, dan tidak minum-minuman keras, mereka menyebut mereka "pelajar Allah" dan mereka menerima dia dengan baik. 

Pada suatu hari ketika kapten Jones beristirahat di siang hari, seekor ular besar menyerang kudanya yang sedang merumput, dan ular itu menggigit kuda itu di mulutnya. Pemilik kuda itu, termasuk salah satu dari rombongan yang mengiringi kapten Jones, sangat ketakutan. Dia merasa pasti kudanya akan segera mati. Dan dia mulai menangis karena dia akan kehilangan kuda yang membawa penghasilan baginya. Gigitan ular dianggap tanda kemarahan Allah, dan pemilik kuda itu mulai menyalahkan dirinya karena berurusan dengan kapten Jones yang bukan Islam.

"Sekarang Allah menghukum dia," dia meraung-raung. Perasaan pengikut kapten Jones berubah, dan tiba-tiba mereka menjadi ganas pada saat kuda itu mulai menderita karena gigitan ular. Untuk seketika Kapten Jones memikirkan apa yang harus dia lakukan. Kemudian dia bertelut dihadapan orang banyak dan berdoa. Dia mengatakan pada Tuhan betapa pentingnya bagi dia dan bagi orang-orang, agar kuda itu tidak mati. Kemudian dia menuntut janji yang ada dalam ayat renungan pagi kita pagi ini. 

Ketika dia selesai bertelut dan berdiri dia berkata pada orang-orang. "Tuhanku tidak akan membiarkan kuda itu mati. Tuhan sudah mendengar doaku." Kemudian dia menunggangi kuda yang masih gemetar itu dan pergi. Orang-orang mengikuti dia, dan mereka heran karena kuda itu baik-baik saja sampai akhir hari itu. 

Dan kamu bisa membayangkan tentunya orang-orang tambah menghormati sang kapten untuk sisa perjalanan itu.
Apa yang dilakukan Tuhan bagi kapten Jones, bisa juga dilakukan untukmu. lngat janji yang sangat berharga ini, dan berimanlah pada Tuhan.